topads

Penggunaan Tembakau Salah Satu Resiko dari Empat Penyakit Tidak Menular


Jakarta,BeritaRayaOnline,-Penggunaan tembakau merupakan salah satu resiko yang paling utama dari empat penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit paru-paru kronis dan diabetes.Selain itu penggunaan tembakau juga merupakan faktor utama dari penyakit infeksi, tuberkulosis dan infeksi saluran pernafasan bawah yang merupakan beban kesehatan yang akan berdampak besar pada tingkat kemanusiaan.Pada 2O13, PTM diproyeksikan menjadi penyebab lebih dari 75 persen kematian di seluruh dunia 8O persen kematian berasal dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan, dr.Ekowati Rahadjeng, Skm, M.Kes mengatakan hal tersebut , dalam acara Workshop Bagi Media Tentang Pelaksanaan Permenkes Nomor 28 Tahun 2O13 (Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan Pada Kemasan Produk Tembakau) di The Park Lane Hotel, Jakarta  Selasa(17/6/2O14).

Hadir dalam acara Workshop tersebut Dra.Sri Utami Ekaningtyas, Apt,MM, Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Badan POM RI, Irwan Djulianto (moderator/mantan wartawan Kompas), dr.Lily S Sulistyowati,MM, Kepala Pusat Promosi Kesehatan, Maman Suherman (Pakar Media), dan drg.Murti Utami,MPH, Kepala Pusat Komunikasi Publik, Kementerian Kesehatan.

Pada 2O11, WHO-Profil Penyakit Tidak Menular menunjukkan sekitar 1,1 juta orang Indonesia meninggal karena Penyakit Tidak Menular, termasuk data bahwa 582,3OO laki-laki dan 481,7OO perempuan di tahun 2OO8.Penyakit Tidak Menular mengakibatkan kematian kira-kira 64 persen.
Indonesia mengalami kerugian sebesar USS 37,2 juta setiap tahunnya atau diperkirakan setara dengan 7 persen dari GDP (Gross Domestic Product) berdasarkan Penyakit Tidak Menular misalnya kanker, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan diabetes.Penderita PTM meningkat 45 persen di tingkat internasional dan 25 sampai dengan 3O persen di Indonesia.

Di Indonesia diperkirakan terdapat 2OO.OOO orang meninggal dunia akibat penyakit terkait tembakau.Jumlah perokok di Indonesia berjumlah 9O juta jiwa (36,3 persen).Jumlah perokok laki-laki 68,8 persen, sedangkan perokok perempuan 6,9 persen.Perokok pemula usia 10-14 tahun naik dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 18 persen pada 2013.Pada usia remaja (usia 13-15 tahun) 12 persen diantaranya adalah perokok (aki-laki 24persen, dan perempuan 2 persen). 78 persen perokok mengaku mulai merokok sebelum umur 19 tahun dan sepertiga dari siswa sekolah mengaku mencoba menghisap rokok pertama kali sebelum umur 10 tahun.

Di Indonesia total kumulatif kerugian ekonomi secara makro pada 2013 sebesar Rp 378,75 triliun yang mencakup pengeluaran masyarakat untuk membeli tembakau (Rp 138 triliun), kehilangan tahun produktif karena kematian prematur, sakit, dan disabilitas ( Rp 235,4 triliun). Total biaya rawat jalan dan rawat inap karena penyakit terkait tembakau (Rp 5.35 triliun). Jumlah ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan cukai rokok untuk tahun yang sama yakni sebesar Rp 87 triliun.

Menurut dr.Ekowati Rahadjeng,Skm.Mkes, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen PP&PL,Kementerian Kesehatan,  Asap Rokok Orang lain (AROL) atau perokok pasif merupakan asap yang bercampur antara asap dan partikel. Asap ini terdiri dari 7000 senyawa kimia yang bercampur termasuk di dalamnya ditemukan suatu bahan-bahan yang ada di dalam suatu produk seperti misalnya cat kuku (aseton), pembersih toilet (ammonia), racun tikus (sianida), pestisida (DDT) dan asap knalpot mobil (karbonmonooksida). Ratusan diantaranya adalah beracun dan sedikitnya 69 diantaranya merupakan bahan penyebab kanker.

"Rokok menyebabkan lebih dari 80 persen laki-laki dan hampir 50 persen perempuan meninggal dunia karena kanker paru-paru. Perokok pasif diperkirakan menyebabkan kematian sekitar 600.000 kematian dini setiap tahunnya di dunia.Diperkirakan 700 juta anak-anak di dunia, sekitar 40 persen dari jumlah keseluruhan anak-anak di dunia terpapar asap rokok orang lain di dalam rumahnya," jelasnya.

Di Indonesia, 85 persen rumah tangga terpapar dari asap rokok.Estimasinya adalah delapan perokok meninggal karena perokok aktif, satu perokok pasif meninggal karena terpapar asap rokok orang lain.Berdasarkan perhitungan rasio ini maka sedkitnya 25.000 kematian terjadi dikarenakan terpapar asap rokok orang lain di Indonesia.

Bayi yang terpapar asap rokok bik masih dalam kandungan atau setelah dilahirkan ad peningkatan resiko kelahiran bayi prematur dan memiliki Berat Bayi LahirRendah (BBLR) serta berlipat ganda resiko untuk sindrom kematian bayi mendadak. Dihitung berdasarkan anak-anak yang terpapar asap rokok orang lain, terdapat 50-100% resiko untuk terjangkit penyakit sistem pernafasan dan peningkatan akibat penyakit infeksi telinga.

Asap Rokok Orang Lain (AROL)juga dapat mengandung partikel kecil yang disebut menjadi particulate matter (PM 2,5) yang dapat dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Asap rokok memberikan kontribusi paling besar terhadap PM 2,5 dalam polusi udara di dalam gedung di Jakarta, Bogor, dan Palembang. (lasman simanjuntak)
Tags: ,

author

BeritaRayaOnline.Com

0 comments

Leave a Reply

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan BeritaRayaOnline.Com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. BeritaRayaOnline.Com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
BeritaRayaOnline.Com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.