topads

Indonesia dan UN-Habitat Bermitra untuk Agenda Perkotaan Baru


Teks Foto  : Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, Ir.Imam S Ernawi didampingi Ir.Erna Witular dalam doorstop dengan para wartawan di Jakarta, Jumat siang (20/6/2014). (Foto  :Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Pemerintah Indonesia tengah serius menyiapkan Konferensi Habitat III tahun 2016, salah satunya dengan mengundang Direktur Eksekutif UN-Habitat, Dr. Joan Clos, untuk menjalin Kemitraan Agenda Habitat (Habitat Agenda Partners) Indonesia. Fokus utama kemitraan tersebut adalah membahas ‘agenda perkotaan baru’ (New Urban Agenda) di Indonesia sekaligus sebagai forum strategis bagi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka mewujudkan visi permukiman yang layak huni dan berkelanjutan di Indonesia.

Kunjungan Dr. Joan Clos di Indonesia pada 19-22 Juni 2014 juga dimaksudkan untuk menjalin kelanjutan hubungan kemitraan Indonesia dengan UN-Habitat yang telah berjalan dengan baik dan dalam waktu yang cukup lama. Kesempatan tersebut juga sebagai upaya kolaborasi bersama dengan Pemerintah Indonesia, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum, dalam Persiapan Konferensi Habitat III yang akan diselenggarakan pada tahun 2016.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, DR. Ir. Achmad Hermanto Dardak, MSc., mengungkapkan pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan merupakan salah satu sektor yang sangat penting untuk diperhatikan karena langsung berhubungan dengan masyarakat. “Pemerintah Indonesia sangat mendukung upaya-upaya untuk memajukan sektor tersebut dengan kemitraan dari dalam negeri maupun secara global, salah satunya dilakukan dengan pelaksanaan Konferensi Habitat III,” ungkap Dardak kepada media di Jakarta, Jumat (20/6/2014).

Sementara Dr. Joan Clos menambahkan, negara anggota harus mampu mengenali bahwa urbanisasi yang baik, yang berdasar pada efisiensi positif, terjadi karena adanya perencanaan. “Konferensi Habitat III akan menjadi kesempatan baik bagi negara anggota dan rekan di seluruh dunia untuk mendorong pembangunan berkelanjutan,” tambah Clos.

Dalam agenda kunjungan Dr. Joan Clos ke Indonesia hari ini, Jumat (20/6/2014), diantaranya melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, penandatanganan MoU bersama dengan Kementerian PU, serta menjadi pembicara dalam kuliah umum di kantor Kementerian PU yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan dan bertema “Peran Kunci Urbanisasi Perkelanjutan dalam Pembangunan”. Kuliah umum juga akan digelar di kampus ITS Surabaya pada Sabtu (21/6/2014) di sela-sela mengunjungi program Kampung Hijau di Surabaya. Dr. Clos akan mengakhiri agenda kerjanya di Indonesia dengan berpidato di Balai Kota Surabaya dengan tema “Jalan Kota dan Ruang Publik sebagai Penggerak Kesejahteraan Perkotaan”.

Dalam kuliah umumnya di kantor Kementerian PU, Dr. Joan Clos berpesan agar Indonesia dapat meningkatkan kapasitas pemerintah dalam perencanaan kota dan wilayah, sehingga tercipta kota yang layak huni bagi seluruh masyarakat. “Urbanisasi bukan merupakan akibat dari pembangunan, tetapi lebih sebagai sumber dari pembangunan. Maka dari itu, sangat penting bahwa Agenda Pembangunan Pasca-2015 membahas tantangan bagaimana kota-kota dapat menjadi lebih terencana dan dikelola dengan baik, sehingga kota dapat berperan sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan,” kata Dr. Clos.

Dr. Clos juga menyambut baik niat Indonesia menjadi pemeran utama dalam mendorong New Urban Agenda secara nasional dan di kawasan Asia-Pasifik, dengan menjadi pimpinan regional dalam persiapan Habitat III dan promosi pembangunan perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan.

UN-Habitat, lanjut Clos, mengakui bahwa Indonesia telah mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berskala nasional yang luar biasa, dengan mengarusutamakan partisipasi masyarakat dalam berbagai kebijakan pengembangan kota. Maka dari itu, tujuan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh di Indonesia pada 2019 menjadi suatu target yang dimungkinkan. Namun, menjembatani perencanaan tata ruang yang inovatif dengan perencanaan pembangunan partisipatif di kawasan perkotaan masih menjadi suatu tantangan dalam pembangunan perkotaan.

Pada hari yang sama, Jumat (20/6/2014) di Jakarta, Dr. Joan Clos dan Kementerian PU melakukan deklarasi pembentukan Habitat Agenda Partners Indonesia. Kemitraan tersebut merupakan salah satu rekomendasi pertemuan 12th Committee of Permanent Representatives (CPR) Subcommittee on World Urban Forum 7 (WUF7) di Medellin, Kolombia pada tanggal 5-11 April 2014.

Deklarasi Kemitraan Agenda Habitat Indonesia (Habitat Agenda Partners Indonesia) didasarkan pada keinginan dan kepedulian untuk menjawab tantangan di bidang pengembangan kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan, termasuk air minum dan sanitasi, dalam upaya mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan. Deklarasi dilaksanakan pada Jumat (20/6/2014) dan melibatkan berbagai unsur, yaitu perguruan tinggi, asosiasi, lembaga swadaya masyarakat, badan usaha, organisasi wanita, generasi muda, professional, serta Pemerintah dan pemerintah daerah.

Upaya tersebut sangat penting untuk menjawab tantangan dalam mewujudkan pengembangan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan di Indonesia, yaitu pencapaian program jangka menengah yang dikenal dengan target 100-0-100. Target-target yang dimaksud adalah pencapaian akses aman air minum 100%, permukiman kumuh 0%, dan akses sanitasi layak 100% pada akhir tahun 2019. Tantangan tersebut jelas cukup berat mengingat saat ini kondisi akses aman air minum, permukiman kumuh, dan akses sanitasi layak baru mencapai 67%, 12%, dan 59%.

Sehubungan dengan Konferensi Habitat III, Indonesia memenuhi harapan UN-Habitat untuk dapat menjadi focal point di Kawasan Asia Pasifik dan menyatakan siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asia-Pacific Preparatory Meeting for Habitat III (Ministerial Meeting) pada tahun 2015.

Konferensi Habitat III akan menjadi pertemuan global pertama yang digelar oleh United Nations melanjutkan Post - 2015 Development Goals yang diharapkan akan menjadi kesepakatan iklim baru di COP21 di Paris. Konferensi Habitat III tahun 2016 akan menjadi kesempatan baik bagi negara - negara anggota, walikota - walikota, dan rekan - rekan di seluruh dunia untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.

“Konferensi Habitat III akan menyepakati ‘agenda perkotaan baru’ yang merepresentasikan perubahan paradigma menuju model baru urbanisasi, untuk merespon tantangan-tantangan masa kini, mengoptimalkan sumber daya untuk meraih potensi-potensi di masa yang akan datang,” ujar Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto  Dardak.

UN-Habitat merupakan badan PBB yang bergerak dalam bidang perumahan dan permukiman, yaitu sebagai focal point untuk monitoring, evaluasi dan implementasi dari Agenda Habitat, serta bertugas sebagai pelaksana Agenda 21 bidang Permukiman. UN-Habitat menyelenggarakan Konferensi Habitat yang dilaksanakan setiap 20 tahun sekali. Konferensi Habitat I dilaksanakan pada tanggal 31 Mei -11 Juni 1976 di Vancouver, Canada, yang menghasilkan Deklarasi Vancouver, dan Konferensi Habitat II dilaksanakan pada tanggal 3 - 14 Juli 1996 di Istanbul, Turki dengan hasilnya adalah Deklarasi Istanbul dan Agenda Habitat.(***/lasman simanjuntak)

Tags: ,

author

BeritaRayaOnline.Com

0 comments

Leave a Reply

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan BeritaRayaOnline.Com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. BeritaRayaOnline.Com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
BeritaRayaOnline.Com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.