topads

Kawasan Perkotaan di Asia Pasifik Miliki Tingkat Pertumbuhan Penduduk Tertinggi di Dunia

Teks Foto  :  Bernardus R.Djonoputro Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) mendampingi Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak dalam jumpa pers di Jakarta Kamis siang (19/6/2014) sehubungan akan diselenggarakan Earoph World Congress pada 10-13 Agustus 2014. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta BeritaRayaOnline,-Kawasan Perkotaan di wilayah Asia Pasifik merupakan wilayah yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia. Fakta ini diikuti oleh berbagai persoalan perkotaan yang muncul di kawasan tersebut seperti kemiskinan, kawasan kumuh, kualitas infrastruktur dan lain sebagainya.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Hermanto Dardak mengatakan, Indonesia merupakan bagian penting dalam sistem kota-kota regional untuk memberikan komitmen mendukung usaha-usaha nyata dalam perencanaan dan pembangunan kota yang berketahanan.

"Mengacu pada Most Livable City Index (MLCI) di 2009 dan 2001, di mana hampir 50 persen penduduk kota Indonesia merasa bahwa kotanya tidak nyaman dihuni," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak saat Konferensi Pers Earoph World Congress di  Jakarta, Kamis (19/6/2014).

Hermanto menambahkan, dengan ketidaknyamanan tersebut menunjukan tidak berubah banyaknya dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, MLCI 2014 juga akan melihat hal serupa, dan diharapkan akan menjadi refrensi bagi pemerintah untuk merealisasikan program-program ke depan.

Selain itu, sambung Hermanto, dalam menjawab isu-isu perkotaan tersebut, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Earoph World Congress. Dengan begitu, kota-kota yang memerlukan multidimensi dengan pendekatan menajemen pembangunan kota yang inovatif bisa bertukar pengalaman di acara tersebut.

Persoalan Perkotaan

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI), Bernadus R Djonoputro mengatakan, dalam membangun kesadaran bersama dalam menyelesaikan persoalan perkotaan, terutama meningkatkan ketahanan kota, maka diperlukan kolaborasi seluruh pihak untuk merumuskan langkah bersama lintas negara dan pemangku kepentingan.

"Acara ini memberikan peluang kepada para pemimpin kota dan pemangku kepentingan untuk saling bertukar pengalaman, terutama dalam mewujudkan kota layak huni dan berkelanjutan," tambahnya.

Oleh karena itu, Bernadus berharap, dengan acara  Earoph World Congress seperti ini akan muncul gagasan-gagasan segar, baik tingkat konseptual maupun praktis, tentang pengelolaan kota yang berbasis teknologi dan berketahanan.

 -Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Bernardus Djonoputro mengatakan lagi sebanyak 66 persen masyarakat Yogyakarta merasa nyaman akan kotanya. Angka ini berada di atas rata-rata nasional yang menunjukkan 46 persen masyarakat di 15 kota merasa tak nyaman dengan kota tempat mereka tinggal.

 "Masyarakat Yogyakarta menilai hubungan antar-penduduk sangat baik, sehingga mereka nyaman untuk tinggal di sana," kata Bernardus,  usai jumpa pers sehubungan akan diselenggarakannya Earoph World Congress10-13 Agustus 2014, di Jakarta, Kamis (19/6/2014).

Angka ini didapat dari survei most liveable city index yang dilakukan IAP pada 2011 lalu. Pada survei tersebut, masyarakat perkotaan diminta menilai kenyamanan kota, antara lain, berdasarkan aspek tata ruang, transportasi, lingkungan, pendidikan, dan budaya sosial masyarakat.

Menurut Bernardus, masyarakat Yogyakarta merespons positif pada hampir semua aspek penilaian. Satu-satunya aspek yang dikeluhkan masyarakat adalah rendahnya kesempatan kerja di Yogyakarta. "Makanya kami sering lihat bandara Yogyakarta selalu penuh setiap akhir minggu. Itu orang-orang yang pulang bekerja dari luar kota," ujar Bernardus.

Meski demikian, untuk aspek-aspek lainnya seperti pendidikan, tata ruang, dan hubungan antar-penduduk, penilaian masyarakat Yogyakarta sangat positif.

Survei dilakukan IAP di 15 kota metropolitan, antara lain Denpasar, Palangkaraya, Bandung, Makassar, Yogyakarta, dan Medan, dengan melibatkan 500 partisipan di tiap kota. Indeks kenyamanan paling rendah ada di Kota Medan. Sebanyak 54 persen masyarakat kota tersebut mengaku tidak nyaman dengan kotanya.

Hasil survei most liveable city index terbaru yang melibatkan 20 kota akan diumumkan IAP pada Earoph World Congress ke-24 pada Agustus mendatang. Dalam acara itu Indonesia akan menjadi tuan rumah. Earoph merupakan organisasi multi-sektoral non-pemerintah yang diakreditasi dan berafiliasi dengan PBB.(dbs/lasman simanjuntak)

Tags: ,

author

BeritaRayaOnline.Com

0 comments

Leave a Reply

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan BeritaRayaOnline.Com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. BeritaRayaOnline.Com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
BeritaRayaOnline.Com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.